Catatan Pengajian Majelis Ta'lim Nurul Muhibbin Balangan Malam Rabu, 16 Juni 2026

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadis:
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dari muka bumi ini,
lalu Allah mengganti kalian dengan suatu kaum yang berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, maka Allah mengampuni mereka." (HR. Muslim)
Dalam hadis ini Rasulullah menggunakan sumpah. Sumpah Nabi tujuannya untuk memperkuat kebenaran perkataan beliau. Berbeda dengan kita,
kalau kita bersumpah biasanya untuk menghilangkan keraguan di hati pendengar.
Nabi bersumpah, andaikata kalian tidak berbuat dosa, maka Allah mematikan semuanya, lalu Allah mengganti dengan penduduk yang berbuat dosa,
kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, maka Allah mengampuni mereka.
Faidah-faidah yang ada dalam hadis tersebut di antaranya:
1. Sumpah Nabi untuk memperkuat kebenaran, bukan untuk menghilangkan keraguan.
Sumpah diperbolehkan jika sesekali digunakan untuk menghilangkan keraguan.
2. Dosa itu ada bagi selain nabi dan rasul.
Jika seseorang bukan nabi atau rasul,
maka ia bisa berbuat dosa, baik laki-laki maupun perempuan, yang alim ataupun yang tidak, tetap tidak terlepas dari yang namanya dosa.
3. Luasnya rahmat Allah.
Tidak ada batasan berapa kali kita berbuat dosa. Selama dosa itu diiringi dengan taubat dan istighfar, maka akan diampuni oleh Allah.
Walaupun dosa itu dikerjakan berulang kali, banyak dosa kita, maka lebih banyak lagi rahmat Allah.
Jangan sampai putus asa dari rahmat Allah. Sebesar apa pun dosa yang kita lakukan, lebih besar lagi ampunan dan rahmat Allah, asalkan kita benar-benar meminta ampun.
Rahmat Allah itu tidak ada batasan.
Dalam hadis yang sahih dijelaskan ada seorang hamba berbuat dosa lalu meminta ampun.
Besok demikian pula, besoknya demikian pula, berbuat dosa lalu meminta ampun. Lalu Allah berfirman, "Wahai si fulan, lakukan apa yang engkau mau, maka Aku ampuni engkau."
Artinya, sampai dia mati melakukan dosa dan tetap meminta ampun kepada Allah, maka dia tetap mendapatkan ampunan Allah.
Jika kita mendeteksi diri kita dalam sehari, pasti ada dosa yang kita kerjakan.
Dosa kita banyak pintunya. Kalau kita tidak mau satu per satu meneliti dosa itu, maka kita tidak akan menyadarinya.
Yang paling besar pintu dosa adalah hati kita. Jangan dikira dosa hanya ada pada anggota tubuh, tetapi banyak dosa yang bersumber dari hati.
Kerap kali hati kita merasa tidak senang kepada seseorang, padahal orang itu tidak patut untuk tidak kita senangi, maka ini dosa.
Ada pekerjaan yang kita merasa bahwa pekerjaan itu benar-benar dari kita, bukan dari Allah, maka ini juga dosa.
Besar dosa kita, lebih besar lagi ampunan Allah. Jangan malu untuk bertaubat kepada Allah.
Wajib atas orang yang beriman untuk mengiringi jatuhnya dia dalam dosa dengan taubat dan istighfar, segera tanpa ditunda.
Jangan memperlambat meminta ampun, karena lambat meminta ampun akan membuat dosa menjadi beriringan.
Begitu selesai berbuat dosa, maka segera minta ampun kepada Allah. Jangan diperlambat, dan benar-benar meminta ampun, sampai meneteskan air mata.
Bukan main-main meminta ampun. Kadang hati kita tidak sadar ketika mengucapkan minta ampun kepada Allah.
Seandainya kita konsisten dengan taubat ini, maka hati kita laksana kertas putih. Kalau tidak konsisten bertaubat, maka kertas itu menjadi ada bintik-bintik.
Terkadang ada dosa yang terhapus dengan sendirinya karena amal-amal baik,
seperti shalat, puasa, wudhu, sedekah, dan lain sebagainya. Namun ada dosa yang mesti dimintakan ampun terlebih dahulu baru diampuni oleh Allah.
1. Taubat dari dosa.
2. Taubat dari dosa yang terdahulu atau yang terlambat ditaubati.
Setiap penghalang kita untuk berbuat baik adalah dosa.
Bukan penyakit, bukan sibuk, tetapi dosa. Dosa itulah yang menghalangi kita dari berbuat ketaatan kepada Allah.
Kenapa kita tidak bisa membaca dzikir, shalawat, dan Al-Qur'an ?
Yaitu karena dosa kita, bukan karena sakit ataupun sibuk.
Jadi kita harus mengerti apa yang mesti kita kerjakan, yaitu tertib.
Apabila kita melakukan dosa, maka kita segera bertaubat.
Apabila kita mendapat nikmat, maka kita bersyukur. Apabila mendapat musibah, maka kita bersabar.
Sabar itu bermanfaat apabila disegerakan.
Misalnya setelah mendapat musibah, maka langsung kita bersabar, jangan menunggu besok.
Imam Ahmad Ibnu Athaillah dalam Hikmah yang ke-17 berkata:
مَا تَرَكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْئًا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحْدِثَ فِي الْوَقْتِ غَيْرَ مَا أَظْهَرَهُ اللهُ فِيهِ
Artinya:
"Tidaklah meninggalkan sedikit pun dari kebodohan, orang yang menghendaki terjadinya sesuatu yang berbeda dari apa yang Allah tampakkan pada waktu itu."
Orang yang jahil terkadang suka tertukar. Yang mestinya disukai, justru dia marah terhadapnya.
Jangan sampai menjadi orang yang jahil seratus persen, memborong seluruh kejahilan.
Orang yang jahil adalah orang yang mengadakan sesuatu yang tidak diperintahkan untuk diadakan pada waktu itu.
Orang yang berdosa pada waktu itu disuruh untuk bertaubat dan beristighfar.
Dia mengucapkan, "Astaghfirullah, Rabbighfirli," maka inilah yang benar.
Bila engkau bermaksiat kepada Allah,
baik maksiat zahir maupun batin, maka kita tidak bisa lepas dari taubat. Sebanyak apa pun ilmu yang telah kita kaji, kita tetap tidak bisa lepas dari taubat.
Setiap kita menyadari telah melakukan maksiat, maka sesegeranya kita melakukan taubat.
Sesuatu yang seharusnya tidak disukai, lalu kita justru menyukainya, maka itu juga dosa.
Bila Allah memberikan nikmat kepada kita, maka segera bersyukur. Jangan menunda syukur itu walaupun hanya dalam hati.
Syukur lisan dengan mengucapkan Alhamdulillah.
Ada pula syukur jawarih (anggota badan), yaitu menggunakan nikmat tersebut dalam perkara yang disukai oleh Allah.
Apabila kita membiasakan taubat dan syukur kepada Allah, maka ini menunjukkan bahwa kita bukan termasuk orang yang jahil.
والله أعلم بصواب
Mohon maaf atas segala bentuk ketidaksempurnaan dalam merangkai kata dan menyampaikan isi dari catatan ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya.
✍@ibnathalib_
Baca juga :
Catatan Pengajian Majelis Ta'lim Nurul Muhibbin Balangan Malam Rabu, 14 April 2026
Sebelum Tesis Kiai Imad menyerang - Ust. Ismael Al Kholilie
Ketika Orang Afrika masuk Islam hanya karena memandang Habib Umar
Jangan Menjadi Pendendam, Maafkan Orang Yang Meminta Maaf Padamu
Ijazah Dzikir Yang Menyamai 72.000 Kali Bacaan Tahlil
Tiga Hal Mengerikan yang Telah Dilewati oleh Orang yang Wafat
6 PERKARA YANG DAPAT MENGGEROGOTI AMAL KEBAIKAN
Kumpulan Kalam Habib Umar bin Hafidz
Pesan Habib Umar bin Hafidz di Haul Solo - Podcast Deddy Corbuzier
Melatih Anak agar Berpikir Cerdas
Ijazah Dzikir Yang Menyamai 72.000 Kali Bacaan Tahlil
Jangan Menjadi Pendendam, Maafkan Orang Yang Meminta Maaf Padamu
Etika-etika dalam berbicara yang harus diperhatikan
Membedah Kitab terbaru Kiai Imad - Ust. Ismael Al Kholilie
Niat Nikah dan Anjuran menikah dan berketurunan
Sejarah uang kertas ternyata cukup panjang
Subscribe Channel YouTube Resmi Majelis Ta'lim Nurul Muhibbin Barabai - Balangan
Follow Instagram :
@232nmtv @alwafa_id @habibomarcom @majelis_almuwasholah @ismaelalkholilie @ibrahim.alkhalilie