Catatan Pengajian Majelis Ta'lim Nurul Muhibbin Balangan Malam Rabu, 21 Juli 2026

Catatan Pengajian Majelis Ta'lim Nurul Muhibbin Balangan Malam Rabu, 21 Juli 2026 - Guru Bakhiet

K.H. Muhammad Bakhiet - Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Muhibbin Barabai - Balangan

Allah berfirman:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.” (QS. Al-Qamar: 49)

Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah memiliki takdirnya masing-masing.

Rezeki, ajal, untung dan rugi, malam dan siang, semuanya telah Allah tentukan.

Para ulama menjelaskan bahwa takdir terbagi menjadi dua:
1. Takdir Mubram, yaitu takdir yang telah ditetapkan dan tidak dapat diubah, seperti kematian dan ketetapan adanya siang dan malam.

2. Takdir Mu‘allaq, yaitu takdir yang berkaitan dengan sebab-sebab tertentu dan dapat berubah dengan sebab yang Allah tetapkan, seperti doa.

Kepandaian seseorang juga berkaitan dengan usaha. Jika seseorang bersungguh-sungguh belajar, maka Allah akan memberikan pemahaman. Namun, jika ia tidak mau belajar, maka ia akan tetap dalam kebodohannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang ia diciptakan untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang ditakdirkan untuk masuk surga akan dimudahkan melakukan amal-amal penghuni surga.

Begitu pula orang yang ditakdirkan masuk neraka akan dimudahkan melakukan perbuatan yang mengantarkannya kepada neraka. Maka hendaknya kita memeriksa diri:

Apakah kita mudah melakukan kebaikan atau justru mudah melakukan maksiat?

Ketika ingin menuntut ilmu, apakah kita mencari jalan atau mencari alasan? Setiap orang dimudahkan menuju apa yang ia diciptakan untuknya.

Amalan orang-orang yang beruntung:
1. Ikhlas, yaitu beribadah semata-mata karena Allah.

Shalat, puasa, zakat, silaturahmi, menuntut ilmu, dan seluruh kebaikan dilakukan karena menjalankan perintah Allah, bukan karena ingin dipuji manusia.

2. Tidak menyandarkan ketaatan kepada diri sendiri. Ketika mampu melakukan ketaatan, jangan merasa bahwa semuanya berasal dari kemampuan kita.



وَبِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ

“Dengan daya dan kekuatan-Nya.” Kita beramal, tetapi menyadari bahwa kemampuan untuk beramal adalah pertolongan dari Allah. 3. Bertakwa, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Amalan orang-orang yang celaka:

1. Menyekutukan Allah, baik dengan menyembah berhala, matahari, dan selainnya.

2. Beribadah karena ingin dipuji manusia, yang termasuk syirik kecil berupa riya.

3. Meninggalkan perkara yang wajib.

4. Terus-menerus melakukan perkara yang haram.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11).

Apabila seseorang benar-benar ingin berubah dari keburukan menuju kebaikan, maka Allah akan menolongnya.

Imam Ahmad ibnu ‘Atha’illah berkata:

مَا مِنْ نَفَسٍ تُبْدِيهِ إِلَّا وَلَهُ قَدَرٌ فِيكَ يُمْضِيهِ

“Tidaklah ada satu napas yang engkau hembuskan, melainkan ada takdir Allah yang berlaku padamu.”

Setiap napas yang kita keluarkan berada dalam takdir Allah. Ketika kita mengaji dan menuntut ilmu, maka itu adalah takdir Allah yang mengantarkan kita kepada kebaikan.

Apabila kita mampu melakukan ketaatan, maka bersyukurlah kepada Allah, jangan menyandarkan ketaatan kepada kemampuan diri sendiri, dan sadari bahwa semua itu terjadi karena pertolongan Allah.

Semua ketaatan yang kita lakukan adalah dengan pertolongan Allah. Apabila kita melakukan maksiat, maka kita harus segera bertaubat dan beristighfar kepada Allah. Takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk terus melakukan maksiat.

Orang yang berilmu bukan berarti tidak pernah melakukan maksiat. Namun, ketika ia terjatuh dalam maksiat, ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan ampunan Allah dan segera kembali kepada-Nya. Ketika taat, bersyukurlah. Ketika maksiat, bertaubatlah.

Seorang mukmin berada di antara ketaatan dan kemaksiatan. Hari ini taat, belum tentu besok tetap taat. Menit ini taat, belum tentu menit berikutnya tetap taat.

Kita bisa saja berada dalam keadaan taat, kemudian terjatuh dalam maksiat, lalu kembali bertaubat dan taat. Yang paling penting adalah bagaimana akhir kehidupan kita.

Jika akhir hidup seseorang berada dalam ketaatan kepada Allah, maka ia memperoleh keberuntungan. Namun, jika akhir hidupnya berada dalam kemaksiatan, maka ia berada dalam kerugian yang besar.

Kesimpulan: Kita wajib mengimani bahwa segala sesuatu yang terjadi telah ditakdirkan oleh Allah. Namun, kita tetap wajib berusaha, berdoa, dan memilih jalan kebaikan.

Jika Allah memberikan kita taufik untuk taat, maka bersyukurlah. Jika kita terjatuh dalam maksiat, maka bertaubatlah.

Mohon maaf atas segala bentuk ketidaksempurnaan dalam merangkai kata dan menyampaikan isi dari catatan ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

والله أعلم بصواب

✍️@ibnathalib_

Baca juga : Ketika anak yatim Alm. Kak Fakhrillah bermimpi bertemu Rasulullah SAW

Subscribe Channel YouTube Resmi Majelis Ta'lim Nurul Muhibbin Barabai - Balangan

Follow Instagram :

@232nmtv @alwafa_id @habibomarcom @majelis_almuwasholah @ismaelalkholilie @ibrahim.alkhalilie

Postingan Sebelumnya
Tidak ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url
Lihat koleksi produk kami di Shopee.
Lihat Produk