Jubahnya diwarisi, Ilmunya tidak

Jubahnya diwarisi, Ilmunya tidak

Jubahnya diwarisi, Ilmunya tidak

Imam Ibnu Malik, dalam Alfiyah menulis bait (Bab Idhofah) yang sederhana tapi berbunyi keras:

وما يلي المضاف يأتي خلفا … عنه في الإعراب إذا ما حذفا

Generasi penerus yg ada di belakang pendahulunya, harus siap menjadi pengganti saat mereka telah pergi.

Harus siap. Bukan hanya harus ada. Tahun ini berapa kitab yg km hatamkan? Betulan khatam? Berapa halaman? Atau cukup foto di depan rak kitab kuning yg gagah itu ?

Dan di sinilah masalahnya, Lora. Gus. Ning. Kakekmu, Kiyai besar itu — tidak mewarisimu gelar. Ia mewarisimu tanggung jawab. Ia mewarisimu beban ilmu yg tdk ringan. Ia mewarisimu ekspektasi umat yg tdk bisa dibayar hanya dengan nama keluarga. Tapi apa yg sedang kamu lakukan dengan warisan itu?

Pertama. Kalian bicara soal kemuliaan nasab, Kebanggaan silsilah, Kehormatan darah — dengan kepala tegak, dengan senyum yang meyakinkan. Tapi yang diajarkan kepada santri-santri yg memandangmu adalah: ” Cukup lahir dari rahim yang tepat, maka hormat itu 'auto' datang, berkerumun “.

Entahlah, sepertinya ada perbedaan signifikan antara apa yang diwarisi kakekmu dan apa yang sedang kamu contohkan. Yang dulu mengaum dengan ilmu, yang sekarang hanya mengandalkan nama.

Kedua. Saat para santri biasa itu berjuang mati-matian, Bangun sebelum subuh, mengulang matan, menghafal nadzam, mengejar target setoran, menanggung malu ketika salah di depan kiyai — kalian sedang dimana ?

Di acara seremonial yg kesekian? Di undangan yg kesekian? Dan tdk tanggung-tanggung, kalian hadir dengan title lengkap, jubah terbaik, tapi kosong di dalamnya.

Ketiga. Dan yg terakhir, ini hanya pertanyaan. Kamu dapat apa sebenarnya dari nasab itu, kalau bukan ilmu yg kamu perjuangkan sendiri? Ada yang kamu hafal tdk selain nama moyangmu? Ada satu bab fikih yang kamu kuasai betul tidak? Ooh, pasti beralasan sibuk, Banyak undangan, Tanggung jawab sosial, bla bla. Selalu pintar ngeles memang.

Selamat, Lora. Gus. Ning. Kalian sedang menjadi penerus — tapi penerus yg hanya mewarisi nama, bukan mewarisi isi. Mewarisi jubah, bukan mewarisi kedalaman. Mewarisi kursi kehormatan, bukan mewarisi keringat yang dulu membuat kursi itu benar-benar terhormat.

Dan umat di sekitar kalian, yang memandang dengan penuh harap itu — sedang menunggu sesuatu yang tdk pernah datang. Dalam ilmu nahwu pun ada aturannya, yg menggantikan harus layak menggantikan. Tidak sembarangan. Ada syaratnya. Ada kelayakannya. Pendiri Madzhab kita, Imam Syafi'i pernah ngendikan :

من لم يذق ذل التعلم ساعة، تجرع ذل الجهل طول حياته

” Siapapun yang tidak mau merasakan pahitnya belajar walau sesaat — maka ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. “ . Kakekmu dulu merasakan pahit itu. Itulah kenapa namanya harum.

Itulah kenapa pesantrennya besar. Itulah kenapa umat menangis saat ia pergi. Bukan karena nasabnya, Tapi karena ilmu dan akhlaknya. Umat tdk butuh nama besarmu. Umat butuh ilmumu. Dan kalau ilmu itu tdk ada — maka kamu hanyalah pajangan mahal di etalase pesantren yg mulai berdebu.

Sekian, Shahibul Jahl wa adz- Dzalil Rizqy Salim.

Sumber Postingan Instagram : @_tsurayyan

Baca juga :

Penuntut ilmu tidak disunnahkan mengingat kematian


Sebelum Tesis Kiai Imad menyerang - Ust. Ismael Al Kholilie


Ketika Orang Afrika masuk Islam hanya karena memandang Habib Umar


Jangan Menjadi Pendendam, Maafkan Orang Yang Meminta Maaf Padamu


Ijazah Dzikir Yang Menyamai 72.000 Kali Bacaan Tahlil


Tiga Hal Mengerikan yang Telah Dilewati oleh Orang yang Wafat


6 PERKARA YANG DAPAT MENGGEROGOTI AMAL KEBAIKAN


Kumpulan Kalam Habib Umar bin Hafidz


Pesan Habib Umar bin Hafidz di Haul Solo - Podcast Deddy Corbuzier


Melatih Anak agar Berpikir Cerdas


Ijazah Dzikir Yang Menyamai 72.000 Kali Bacaan Tahlil


Jangan terlalu mudah menilai seseorang (Belajar dari Kisah Syaikh Buthi dan Syaikh Musthafa As-siba'i)


Keutamaan Sholawat


Jangan Menjadi Pendendam, Maafkan Orang Yang Meminta Maaf Padamu


Etika-etika dalam berbicara yang harus diperhatikan


Membedah Kitab terbaru Kiai Imad - Ust. Ismael Al Kholilie


Tingkatan Dunia


Niat Nikah dan Anjuran menikah dan berketurunan


Sejarah uang kertas ternyata cukup panjang

Subscribe Channel YouTube Resmi Majelis Ta'lim Nurul Muhibbin Barabai - Balangan

Follow Instagram :

@232nmtv @alwafa_id @habibomarcom @majelis_almuwasholah @ismaelalkholilie @ibrahim.alkhalilie

Postingan Berikutnya Postingan Sebelumnya
Tidak ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url
Lihat koleksi produk kami di Shopee.
Lihat Produk