Catatan Pengajian Majelis Ta'lim Nurul Muhibbin Balangan Malam Rabu, 9 Juni 2026

Catatan Pengajian Majelis Ta'lim Nurul Muhibbin Balangan Malam Rabu, 9 Juni 2026

Catatan Pengajian Majelis Ta'lim Nurul Muhibbin Balangan Malam Rabu, 9 Juni 2026 - Guru Bakhiet

Syekh Abdus Shobur Al-Kayyali Ar-Rifa'i Al-Husaini (Istanbul, Turki) bersama K.H. Muhammad Bakhiet (Guru Bakhiet Barabai)

Hati yang Berkarat dan Cara Meneranginya

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa apabila seorang hamba melakukan satu kesalahan, baik yang haram maupun yang makruh, maka akan ditorehkan pada hatinya satu titik hitam. Ini adalah perkara ruhani yang tidak terlihat oleh mata, namun sangat berpengaruh terhadap keadaan hati.

Setiap kali seseorang berbuat dosa, baik laki-laki maupun perempuan, tua ataupun muda, maka akan muncul satu noda hitam dalam hatinya. Apabila ia berhenti dari dosa tersebut, kemudian bertaubat, beristighfar kepada Allah Swt., dan kembali ke jalan yang lurus, maka Allah akan membersihkan kembali hatinya.

Namun jika ia kembali melakukan maksiat tanpa memohon ampun kepada Allah, maka titik hitam itu akan bertambah sedikit demi sedikit hingga menutupi seluruh hatinya. Ketika hati telah tertutupi oleh dosa, seseorang tidak lagi mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Mata hatinya menjadi buta dari melihat kebenaran.

Allah Swt. berfirman:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14) Hati adalah pusat keputusan dalam diri manusia. Sebelum suatu tindakan dilakukan, ada akal dan nafsu yang memberi pertimbangan, namun yang memutuskan adalah hati. Apabila hati telah hitam dan berkarat, maka keputusan yang diambil pun akan menjadi kacau.

Tanda-Tanda Hati yang Berkarat

1. Berat Melakukan Ketaatan

Seseorang merasa malas dan berat untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Swt., baik yang wajib maupun yang sunnah. Ia merasa enggan beribadah, kurang bersemangat membaca Al-Qur'an, berdzikir, ataupun melakukan amal saleh yang berhubungan dengan sesama manusia.

Semakin berat seseorang melakukan ketaatan, semakin banyak pula karat yang menutupi hatinya. Sebaliknya, apabila ia merasa ringan melaksanakan salat fardu, salat sunnah, membaca Al-Qur'an, dan berzikir, maka itu merupakan tanda baiknya keadaan hati.

2. Rajin Berbuat Maksiat

Seseorang begitu mudah melakukan perbuatan maksiat, bahkan terkadang tidak lagi merasa bahwa perbuatan tersebut adalah dosa.

نَشِيطٌ فِي الْمَعْصِيَةِ حَرَامًا كَانَتْ أَوْ مَكْرُوهًا

"Aktif dan bersemangat dalam melakukan kemaksiatan, baik yang haram maupun yang makruh." Bahkan banyak perkara yang tidak memberi manfaat bagi akhirat terus dikerjakan, meskipun tidak semuanya berdosa. Padahal setiap waktu yang digunakan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.

3. Hubbud Dunya (Cinta Dunia)

Seseorang terlalu mencintai dunia hingga kecintaannya itu mengganggu hubungannya dengan Allah Swt. Akibatnya, banyak perkara mulia yang ditinggalkan dan banyak perkara hina yang dikerjakan.

Para ulama menyebutkan bahwa ketika seseorang tidak mampu menjaga hubungan dengan Allah karena sibuk dengan dunia, maka itu merupakan tanda adanya penyakit dalam hati.

Akibat Hati yang Hitam

Akibat dari hati yang hitam karena malas berbuat taat dan gemar melakukan dosa adalah butanya hati dari melihat Allah serta terdindingnya hati dari-Nya. Seseorang menjadi mudah lupa kepada Allah Swt.

Karena jauhnya hubungan dengan Allah, bahkan ketika makan, minum, tidur, dan melakukan aktivitas sehari-hari, ia bisa lalai dari mengingat-Nya. Hatinya sulit menghadirkan Allah dalam kehidupannya.

Penjelasan Imam Ibnu 'Athaillah As-Sakandari

Imam Ibnu 'Athaillah As-Sakandari رحمه الله berkata dalam Al-Hikam:

كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ؟

"Bagaimana mungkin Allah terhijab oleh sesuatu, padahal Dia-lah yang menampakkan segala sesuatu?" Bagi hati yang selamat, Allah selalu tampak melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya. Ketika makan, ia membaca basmalah dan menyadari bahwa rezeki itu berasal dari Allah. Setelah selesai makan, ia mengucapkan hamdalah sebagai bentuk syukur kepada-Nya.

Adapun hati yang telah buta karena banyak dosa dan maksiat, ia hanya melihat sebab-sebab lahiriah. Ia merasa dirinya pintar, kuat, dan berhasil karena usahanya sendiri, sementara ia lupa bahwa Allah-lah yang memberi kecerdasan, kekuatan, dan kemampuan tersebut.

Sebab-Sebab Menerangi dan Menghidupkan Hati

Sebagaimana telepon genggam yang kehabisan daya dapat diisi ulang, demikian pula hati yang mati masih dapat dihidupkan kembali dengan pertolongan Allah Swt.

1. Taubat dan Istighfar

Biasakan bermuhasabah setelah salat Subuh atau Magrib. Renungkan kesalahan dan kelalaian yang telah dilakukan, lalu mohonlah ampun kepada Allah dengan penuh penyesalan.

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

"Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dan aku bertaubat kepada-Nya." Taubat yang sungguh-sungguh akan membersihkan dan mengilapkan kembali hati yang kusam karena dosa.

2. Mengembalikan Kezaliman kepada Pemilik Haknya

Apabila pernah menzalimi seseorang, maka segeralah meminta maaf dan mengembalikan haknya. Menyelesaikan urusan dengan sesama manusia merupakan amalan yang sangat besar nilainya di sisi Allah.

Salat, zikir, dan ibadah lainnya memang penting, tetapi hak-hak manusia juga harus ditunaikan. Hati akan lebih mudah hidup ketika seseorang membersihkan dirinya dari kezaliman terhadap sesama.

3. Membaca Al-Qur'an dan Mentadabburinya

Jangan hanya membaca Al-Qur'an dengan lisan, tetapi berusahalah memahami, merenungi, dan mengamalkan kandungannya. Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ

"Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada..." (QS. Yunus: 57)

Al-Qur'an adalah cahaya yang menerangi hati, menenangkan jiwa, dan menghidupkan ruh yang telah lama lalai dari mengingat Allah Swt.

Barang siapa yang bertaubat dengan sungguh-sungguh kepada Allah, maka Allah akan membersihkan, mengilapkan, dan menerangi kembali hatinya dengan cahaya hidayah.Semoga bermanfaat untuk catatan pengajian atau dibagikan kembali dalam bentuk materi.

والله أعلم بصواب

Mohon maaf atas segala bentuk ketidaksempurnaan dalam merangkai kata dan menyampaikan isi dari catatan ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya. ✍️@ibnathalib_

Baca juga :

Catatan Pengajian Majelis Ta'lim Nurul Muhibbin Balangan Malam Rabu, 19 Mei 2026


Catatan Pengajian Majelis Ta'lim Nurul Muhibbin Balangan Malam Rabu, 12 Mei 2026


Sebelum Tesis Kiai Imad menyerang - Ust. Ismael Al Kholilie


Ketika Orang Afrika masuk Islam hanya karena memandang Habib Umar


Jangan Menjadi Pendendam, Maafkan Orang Yang Meminta Maaf Padamu


Ijazah Dzikir Yang Menyamai 72.000 Kali Bacaan Tahlil


Tiga Hal Mengerikan yang Telah Dilewati oleh Orang yang Wafat


6 PERKARA YANG DAPAT MENGGEROGOTI AMAL KEBAIKAN


Kumpulan Kalam Habib Umar bin Hafidz


Pesan Habib Umar bin Hafidz di Haul Solo - Podcast Deddy Corbuzier


Melatih Anak agar Berpikir Cerdas


Ijazah Dzikir Yang Menyamai 72.000 Kali Bacaan Tahlil


Jangan terlalu mudah menilai seseorang (Belajar dari Kisah Syaikh Buthi dan Syaikh Musthafa As-siba'i)


Keutamaan Sholawat


Jangan Menjadi Pendendam, Maafkan Orang Yang Meminta Maaf Padamu


Etika-etika dalam berbicara yang harus diperhatikan


Membedah Kitab terbaru Kiai Imad - Ust. Ismael Al Kholilie


Tingkatan Dunia


Niat Nikah dan Anjuran menikah dan berketurunan


Sejarah uang kertas ternyata cukup panjang

Subscribe Channel YouTube Resmi Majelis Ta'lim Nurul Muhibbin Barabai - Balangan

Follow Instagram :

@232nmtv @alwafa_id @habibomarcom @majelis_almuwasholah @ismaelalkholilie @ibrahim.alkhalilie

Postingan Berikutnya Postingan Sebelumnya
Tidak ada Komentar
Tambahkan Komentar
comment url
Lihat koleksi produk kami di Shopee.
Lihat Produk